Wahai pemilik sebuah nama,
Sudah lelah jiwa ini menanti,
Kapan bayangmu akan berhenti menghantui,
Sudah berkali-kali bayang dirimu ku usir dari kehidupanku,
Namun tak kunjung mau pergi,
Bahkan tetap tinggal di dalam hati,
Ya Rabb, Tuhan semesta Alam,
Jika dia memang bukan untukku,
Harusnya tak perlu hadirkan dia di dalam hidupku,
Jika dia hanya mempermainkan hatiku,
Harusnya hapus dia dari ingatanku,
Dalam kecewa tergores amarah,
Menjerit tak berarti,
Wahai Dzat yang maha segala,
Bersimpuhku dihadap-Mu,
Jika dia memang bukan yang terbaik untukku,
Sudilah kiranya Engkau hapus cerita tentangnnya dari ingatanku,
Agar hati tak terus terpasung oleh kenangan yang semu,
Agar jiwa tak lama terpenjara oleh pesonanya,
Agar hidup tetap berjalan tanpa harus dihantui oleh sebuah bayangan,
Agar aku dapat kembali merajut mimpi,
Bertawakal kepadaMu ya Illahi Rabbi,
Rabu, 28 April 2010
Jumat, 16 April 2010
Tragedi Tanjung Priuk Hari Ini
Laksana binatang liar engkau meradang garang,
Tanpa pedulikan siapa yang engkau terkam,
Liar tak berperikemanusiaan,
Hilang nuranimu hanya karena tugas semata,
Darah saudaramu kini tak lagi berharga,
Nyawa merekapun kau pertaruhkan juga,
Oooh, inikah yang engkau katakan sebagai tugas negara?
Kenapa harus terjajah di Negeri yang sudah lama merdeka?
Hilang sudah nilai perjuangan bangsa,
Manakala kau nodai perjuanganya dengan darah dan air mata mereka yang tak berdosa,
Tanjung Priok menangis lagi hari ini,
Manakala keserakahan dan ambisi tak sudah tak pedulikan nilai history,
Meremehkan sejarah perjuangan bangsa,
Mempertaruhkan nyawa dan darah saudaranya,
Sungguh ini sangat memilukan,
Menyayat hati, menorehka kecewa yang begitu dalam,
Wahai Ibu pertiwi,
Ku tau dukamu disenja ini,
Usah berkecil hati,
Semoga esok kan ada pelangi, warnai langit Bangsa ini,
Ciptakan kedamaian di Negeri tercinta,
Tempat dimana kaki berpijak, dan segala harapan kita sandarkan,
Merdeka!!!
Tegal 14 April 2010
By. Asih Murniati Wakhid
Tanpa pedulikan siapa yang engkau terkam,
Liar tak berperikemanusiaan,
Hilang nuranimu hanya karena tugas semata,
Darah saudaramu kini tak lagi berharga,
Nyawa merekapun kau pertaruhkan juga,
Oooh, inikah yang engkau katakan sebagai tugas negara?
Kenapa harus terjajah di Negeri yang sudah lama merdeka?
Hilang sudah nilai perjuangan bangsa,
Manakala kau nodai perjuanganya dengan darah dan air mata mereka yang tak berdosa,
Tanjung Priok menangis lagi hari ini,
Manakala keserakahan dan ambisi tak sudah tak pedulikan nilai history,
Meremehkan sejarah perjuangan bangsa,
Mempertaruhkan nyawa dan darah saudaranya,
Sungguh ini sangat memilukan,
Menyayat hati, menorehka kecewa yang begitu dalam,
Wahai Ibu pertiwi,
Ku tau dukamu disenja ini,
Usah berkecil hati,
Semoga esok kan ada pelangi, warnai langit Bangsa ini,
Ciptakan kedamaian di Negeri tercinta,
Tempat dimana kaki berpijak, dan segala harapan kita sandarkan,
Merdeka!!!
Tegal 14 April 2010
By. Asih Murniati Wakhid
Selasa, 13 April 2010
Sebuah Renungan
Inikah yang mereka namakan CINTA?
Rasa yang terjamahi dari satu sisi saja,
Bukan cinta yang terlahir dari keangkuhan hati,
Pun bukan cinta yang bermuara pada kekaguman semata,
Ku katakan padamu, bahwa itu hanya nafsu belaka,
Kadang aku merasa geli pada mereka yang mengaku cinta mati kepada kekasihnya,
Hmm,,,
Bagaimana bisa tanyaku,
Sedang kepada Tuhannya saja yang telah memberikan nyawa kau masih bersikap setengah hati,
Coba luangkan waktumu sejenak,
Ingat kembali betapa tak terhitung lagi olehmu nikmat yang Tuhan berikan kepadamu,
Kenapa harus bersenandung "mencintaimu sampai mati,,,,"
Kenapa harus berserapah "bahagiaku hanya bila bersamamu"
Bukankah Tuhanmu adalah sumber kebahagiaan yang paling hakiki?
Atas keridhoanNyalah kebahagiaan dapat kau rasakan,
Dan hanya dalam pelukNya kan kau temukan makna sebuah kedamaian,
Dan hanya kepadaNyalah segala pengharapan dapat kau sandarkan,
Karena sesungguhnyalah Ia adalah sumber pengharapan bagi semua makhluknya.
By. Asih Murniati Wakhid
Rasa yang terjamahi dari satu sisi saja,
Bukan cinta yang terlahir dari keangkuhan hati,
Pun bukan cinta yang bermuara pada kekaguman semata,
Ku katakan padamu, bahwa itu hanya nafsu belaka,
Kadang aku merasa geli pada mereka yang mengaku cinta mati kepada kekasihnya,
Hmm,,,
Bagaimana bisa tanyaku,
Sedang kepada Tuhannya saja yang telah memberikan nyawa kau masih bersikap setengah hati,
Coba luangkan waktumu sejenak,
Ingat kembali betapa tak terhitung lagi olehmu nikmat yang Tuhan berikan kepadamu,
Kenapa harus bersenandung "mencintaimu sampai mati,,,,"
Kenapa harus berserapah "bahagiaku hanya bila bersamamu"
Bukankah Tuhanmu adalah sumber kebahagiaan yang paling hakiki?
Atas keridhoanNyalah kebahagiaan dapat kau rasakan,
Dan hanya dalam pelukNya kan kau temukan makna sebuah kedamaian,
Dan hanya kepadaNyalah segala pengharapan dapat kau sandarkan,
Karena sesungguhnyalah Ia adalah sumber pengharapan bagi semua makhluknya.
By. Asih Murniati Wakhid
Minggu, 04 April 2010
Karma
Pernah memberi harapan,
Kemudian ia ku campakkan,
Pernah menawarkan sekeping hati,
Lalu aku mengingkari,
Awalnya ku berikan dia sebuah kebahagiaan,
Meski akhirnya kekecewaan yang ia rasakan,
Tanpa ku sadari,,,
Aku telah menorehkan luka di hatinya,
Aku telah menggoreskan kepedihan yang begitu dalam,
Oooh, masih pantaskah aku untuk di maafkan,
Setelah semua kekejaman telah aku lakukan?
Kini aku sedang merasakan karma atas apa yang pernah aku perbuat,
Sungguh Tuhanku Maha Adil,
Dan ini sungguh setimpal dengan kekejaman yang pernah aku lakukan,
By. Asih Murniati Wakhid
Kemudian ia ku campakkan,
Pernah menawarkan sekeping hati,
Lalu aku mengingkari,
Awalnya ku berikan dia sebuah kebahagiaan,
Meski akhirnya kekecewaan yang ia rasakan,
Tanpa ku sadari,,,
Aku telah menorehkan luka di hatinya,
Aku telah menggoreskan kepedihan yang begitu dalam,
Oooh, masih pantaskah aku untuk di maafkan,
Setelah semua kekejaman telah aku lakukan?
Kini aku sedang merasakan karma atas apa yang pernah aku perbuat,
Sungguh Tuhanku Maha Adil,
Dan ini sungguh setimpal dengan kekejaman yang pernah aku lakukan,
By. Asih Murniati Wakhid
Muak
Wahai engkau rasa yang telah menyiksa hati,
Pergilah!!! aku telah bosan terus menerus kau sakiti,
Aku telah lelah kau permainkan rasa ini,
Muak aku, terus diperbudak nafsu sesaatmu,
Aku ingin nikmati kemerdekaan ini,
Merdeka dari rasa yang selalu engkau jajah,
Wahai engkau kata yang bernama CINTA,
Mana keagunganmu yang diseru-serukan oleh pemujamu?
Kau tak dapat memberikan apa-apa yang aku inginkan,
Kecuali sebuah mimpi yang tak mampu aku beli,
Wahai CINTA yang bernaung di dalam hatiku,
Enyahlah kau dari hati dan kehidupanku,
Aku telah muak dengan tingkah lakumu,
Yang selalu membuatku rapuh,
Wahai RINDU yang mengalir dalam darahku,
Hentikan aliranmu itu, yang hanya menjadi racun dalam hidupku,
Membunuh hasrat dan inginku,
Sebelum aku mengecap manisnya secawan anggur kehidupan,
Ya Rabb,,,
Cukupkanlah hati dan jiwa ini dengan cinta dan keagunganMu,
Dekaplah jiwa rapuhku dalam pelukMu,
Yakinkan hati ini, bahwa dalam pelukMu, semua cinta dapat ku rengkuh,
Amin Ya Rabbal Alamiiin,,,
By. Asih Murniati Wakhid
Pergilah!!! aku telah bosan terus menerus kau sakiti,
Aku telah lelah kau permainkan rasa ini,
Muak aku, terus diperbudak nafsu sesaatmu,
Aku ingin nikmati kemerdekaan ini,
Merdeka dari rasa yang selalu engkau jajah,
Wahai engkau kata yang bernama CINTA,
Mana keagunganmu yang diseru-serukan oleh pemujamu?
Kau tak dapat memberikan apa-apa yang aku inginkan,
Kecuali sebuah mimpi yang tak mampu aku beli,
Wahai CINTA yang bernaung di dalam hatiku,
Enyahlah kau dari hati dan kehidupanku,
Aku telah muak dengan tingkah lakumu,
Yang selalu membuatku rapuh,
Wahai RINDU yang mengalir dalam darahku,
Hentikan aliranmu itu, yang hanya menjadi racun dalam hidupku,
Membunuh hasrat dan inginku,
Sebelum aku mengecap manisnya secawan anggur kehidupan,
Ya Rabb,,,
Cukupkanlah hati dan jiwa ini dengan cinta dan keagunganMu,
Dekaplah jiwa rapuhku dalam pelukMu,
Yakinkan hati ini, bahwa dalam pelukMu, semua cinta dapat ku rengkuh,
Amin Ya Rabbal Alamiiin,,,
By. Asih Murniati Wakhid
Tangisan Rindu
Wahai Dzat yang maha kuasa,
Mengapa kau ciptakan rindu di dalam hati ini,
Menoreh seribu duka,
Ciptakan gundah dan gulana,
Gelisah tiada tara,
Wahai engkau belahan jiwaku,
Bagian terindah dalam cinta dan hidupku,
Adakah sama dengan apa yang aku rasa,
Sebuah kerinduan yang begitu dalam,
Yang menyiksaku hampir disetiap malam?
By. Asih Murniati Wakhid
Mengapa kau ciptakan rindu di dalam hati ini,
Menoreh seribu duka,
Ciptakan gundah dan gulana,
Gelisah tiada tara,
Wahai engkau belahan jiwaku,
Bagian terindah dalam cinta dan hidupku,
Adakah sama dengan apa yang aku rasa,
Sebuah kerinduan yang begitu dalam,
Yang menyiksaku hampir disetiap malam?
By. Asih Murniati Wakhid
Sabtu, 03 April 2010
Senandung Alam
Wahai sang surya,
Apakah terikmu siang ini adalah gambaran sebuah amarah?
Keangkaramurkaanmu pada penghuni bumi?
Yang tak tau bagaimana cara mensyukuri,
Yang tak tau bagaimana cara ia menjaga,
Sungai-sungai yang mereka kotori oleh limbah-limbah pabriknya,
Hutan-hutan yang mereka sulap jadi apartemen mewah,
Ooh,,,
Dimana lagikah aku harus berteduh siang ini?
Sedang pohon-pohon yang menjulang tinggipun telah mereka tebangi,
Tak bisa lagi kurasakan semilirnya angin disiang hari,
Tak dapat kudengarkan kidung kedamaian yang dilantunkan oleh alam,
Sebab bumiku kini telah gersang,
Semua tanah dibuatnya jadi jalan beraspal,
Alam telah menjadi korban keserakahan anak manusia,
Ambisi yang tak penah bertepi,
By. Asih Murniati Wakhid
Apakah terikmu siang ini adalah gambaran sebuah amarah?
Keangkaramurkaanmu pada penghuni bumi?
Yang tak tau bagaimana cara mensyukuri,
Yang tak tau bagaimana cara ia menjaga,
Sungai-sungai yang mereka kotori oleh limbah-limbah pabriknya,
Hutan-hutan yang mereka sulap jadi apartemen mewah,
Ooh,,,
Dimana lagikah aku harus berteduh siang ini?
Sedang pohon-pohon yang menjulang tinggipun telah mereka tebangi,
Tak bisa lagi kurasakan semilirnya angin disiang hari,
Tak dapat kudengarkan kidung kedamaian yang dilantunkan oleh alam,
Sebab bumiku kini telah gersang,
Semua tanah dibuatnya jadi jalan beraspal,
Alam telah menjadi korban keserakahan anak manusia,
Ambisi yang tak penah bertepi,
By. Asih Murniati Wakhid
Tanpa Judul
Waktu terus bergulir,
Berjuta cerita tentangmu tlah terlanjur terukir,
Mengertikah engkau bahwa perasaanku tak terhapuskan oleh sang waktu?
Malam menangis,
Tetes embun membasahi jiwa-jiwa yang gersang,
Kucoba untuk tetap bertahan,
Walau kecewa yang selalu aku dapatkan,
Aku terlanjur cinta kepadamu,
Terpasung pada jerat pesonamu,
Terpenjara dalam keangkuhan jiwamu,
Wahai engkau pemilik sebuah nama,
Mengertikah engkau,
Bahwa memikirkanmu, adalah sebuah siksa,
Dan mengertikah engkau,
Bahwa hingga detik ini, aku tak dapat melupakanmu?
By. Asih Murniati Wakhid
Berjuta cerita tentangmu tlah terlanjur terukir,
Mengertikah engkau bahwa perasaanku tak terhapuskan oleh sang waktu?
Malam menangis,
Tetes embun membasahi jiwa-jiwa yang gersang,
Kucoba untuk tetap bertahan,
Walau kecewa yang selalu aku dapatkan,
Aku terlanjur cinta kepadamu,
Terpasung pada jerat pesonamu,
Terpenjara dalam keangkuhan jiwamu,
Wahai engkau pemilik sebuah nama,
Mengertikah engkau,
Bahwa memikirkanmu, adalah sebuah siksa,
Dan mengertikah engkau,
Bahwa hingga detik ini, aku tak dapat melupakanmu?
By. Asih Murniati Wakhid
Jumat, 02 April 2010
Kecewa,,,
Termenungku dalam keheningan malam,
Dalam alunan lagu yang ia dendangkan,
Tanpa nada dan irama,
Hanya jeritan malam yang memberi isyarat,
Agar aku segera beranjak keperaduan,
Untuk menikmati kehangatan dekapan sang malam,
Dan terbuai oleh mimpi indah yang tak pernah mengenal tepian,
Desir anginmu membuat nyenyak tidurku,
Tak ingin terjaga dari mimpi yang disuguhkan oleh sang malam,
Apalagi terbangun,
"oh' jangan,,, biarkan aku menikmati hidup, meski hanya sebatas dalam impian"
"Biarkan aku mengecap manisnya anggur kehidupan, walau hanya sebatas angan"
Aku manusia biasa, rindu rasa, rindu kasih, rindu sayang, dan belaian,
Aku manusia biasa, yang punya hasrat dan keinginan,
Yang tak mampu menolak gejolak jiwa,
Manakala rindu maradang garang,
Ketika mimpi tak jua di raih,
Ketika asa putus di persimpangan,
Saat kecewa yang aku dapat,
Maka sempurnalah sudah semua penderitaan ini ku tanggung seorang diri,,,
By. Asih Murniati Wakhid
Dalam alunan lagu yang ia dendangkan,
Tanpa nada dan irama,
Hanya jeritan malam yang memberi isyarat,
Agar aku segera beranjak keperaduan,
Untuk menikmati kehangatan dekapan sang malam,
Dan terbuai oleh mimpi indah yang tak pernah mengenal tepian,
Desir anginmu membuat nyenyak tidurku,
Tak ingin terjaga dari mimpi yang disuguhkan oleh sang malam,
Apalagi terbangun,
"oh' jangan,,, biarkan aku menikmati hidup, meski hanya sebatas dalam impian"
"Biarkan aku mengecap manisnya anggur kehidupan, walau hanya sebatas angan"
Aku manusia biasa, rindu rasa, rindu kasih, rindu sayang, dan belaian,
Aku manusia biasa, yang punya hasrat dan keinginan,
Yang tak mampu menolak gejolak jiwa,
Manakala rindu maradang garang,
Ketika mimpi tak jua di raih,
Ketika asa putus di persimpangan,
Saat kecewa yang aku dapat,
Maka sempurnalah sudah semua penderitaan ini ku tanggung seorang diri,,,
By. Asih Murniati Wakhid
Rapuh Tanpamu
Dalam gelap malam aku mencari,
Sebuah kedamaian yang dulu sempat aku rasakan,
Namun tak kunjung ku temukan,
Sekeping hati kini telah menghilang pergi,
Wahai engkau pemilik sebuah nama,
Pencuri sebuah hati,
Penebar pesona di dunia maya,
Aku ridu kau malam ini,,,
Rindu sapa angkuhmu,
Rindu pesan singkat darimu,
Rindu komentar pedasmu dalam setiap statusku,
Tak ada lagi bahagiaku jika tanpamu,
Tanpa sapa angkuhmu, tanpa pesan singkat darimu,
Dan tanpa komentar pedas di setaip statusku,
Wahai engkau pemilik sebuah nama,
Aku rapuh jika harus lalui malam tanpa namamu dalam kotak obrolan itu.
By. Asih Murniati Wakhid
Sebuah kedamaian yang dulu sempat aku rasakan,
Namun tak kunjung ku temukan,
Sekeping hati kini telah menghilang pergi,
Wahai engkau pemilik sebuah nama,
Pencuri sebuah hati,
Penebar pesona di dunia maya,
Aku ridu kau malam ini,,,
Rindu sapa angkuhmu,
Rindu pesan singkat darimu,
Rindu komentar pedasmu dalam setiap statusku,
Tak ada lagi bahagiaku jika tanpamu,
Tanpa sapa angkuhmu, tanpa pesan singkat darimu,
Dan tanpa komentar pedas di setaip statusku,
Wahai engkau pemilik sebuah nama,
Aku rapuh jika harus lalui malam tanpa namamu dalam kotak obrolan itu.
By. Asih Murniati Wakhid
Langganan:
Komentar (Atom)
