Ini adalah sebuah titik,
Dimana kejenuhan memiliki tempat tertinggi dalam raga ini,
Bosan aku dengan rutinitas yang sama sekali tak berkualitas,
Dengan penantian yang tyada pernah mengenal batas,
Dengan kerinduan yang tyada kunjung terbalas,
Rabb, sampai kapan aku harus menunggu?
Adakah terbalaskan kerinduan dalam hatiku?
Lelah sudah,
Mungkin lebih baik pasrah saja,
Hingga waktunya tiba,
Penantian dan kerinduanku berlabuh di hatimu yang beku,
Sabtu, 12 Juni 2010
Pasrah
Lalui malam di bawah keremangan cahaya rembulan,
Ingin menangis, namun air mata tak dapat keluar,
Ingin berteriak keras, namun mulut tetap terbungkam,
Ingin berlari mengejar impian, namun kaki tak mampu lagi berjalan,
Hanya diam yang dapat aku lakukan,
Berharap akan mendapatkan keajaiban,
Ya Rabb, adakah kebahagiaan yang kelak aku rasakan?
Adakah sebuah mimpi yang esok dapat kuraih?
Ataukah semua hanya angan,
Yang terbang bersama rohku ketika raga tak bernyawa
Ingin menangis, namun air mata tak dapat keluar,
Ingin berteriak keras, namun mulut tetap terbungkam,
Ingin berlari mengejar impian, namun kaki tak mampu lagi berjalan,
Hanya diam yang dapat aku lakukan,
Berharap akan mendapatkan keajaiban,
Ya Rabb, adakah kebahagiaan yang kelak aku rasakan?
Adakah sebuah mimpi yang esok dapat kuraih?
Ataukah semua hanya angan,
Yang terbang bersama rohku ketika raga tak bernyawa
Minggu, 06 Juni 2010
Mid Night
Sunyi,,,
Sepi,,,
Sendiri lalui keheningan malam ini,
Tiada lawan,
Apalagi kawan,
Hanya berteman suara detik jarum jam yang terus bergerak melintasi angka-angka yang sama,
Ingin berteriak lantang,
Membangunkan mereka dari peristirahatannya yang tenang,
Menyadarkan mereka dari buaian mimpi yang sang malam suguhkan,
Ah' nanti mereka pikir aku sudah gila lagi,
Lebih baik duduk terdiam,
Menembus alam khayalku yang masih tentangmu itu,
Malam terus beranjak,
Kian kelam dan makin mencekam,
Kita berpisah karena kita pernah bersama,
Kita berpisah "selamat jalan orang tercinta"
Sepi,,,
Sendiri lalui keheningan malam ini,
Tiada lawan,
Apalagi kawan,
Hanya berteman suara detik jarum jam yang terus bergerak melintasi angka-angka yang sama,
Ingin berteriak lantang,
Membangunkan mereka dari peristirahatannya yang tenang,
Menyadarkan mereka dari buaian mimpi yang sang malam suguhkan,
Ah' nanti mereka pikir aku sudah gila lagi,
Lebih baik duduk terdiam,
Menembus alam khayalku yang masih tentangmu itu,
Malam terus beranjak,
Kian kelam dan makin mencekam,
Kita berpisah karena kita pernah bersama,
Kita berpisah "selamat jalan orang tercinta"
Selamat Jalan Cinta
Setelah semuanya benar-benar lenyap,
Aku terasing dalam kehingar bingaran dunia maya,
Menjelma menjadi seorang pujangga,
Menari di separuh malam,
Menyaksikan engkau menghilang dengan perlahan,
Kau menghilang tanpa ucapkan kata selamat tinggal,
Menorehkan duka dan kekecewaan yang teramat dalam,
Menenggelamkanku dalam peristiwa yang kini tinggal sebuah kenangan,
Selamat jalan orang tercinta,
Kita memang beda,
Bahkan jauh tanpa batas,
Mimpi tak akan pernah memberiku cinta,
Dan malam akan menjawab semuanya,
Terimakasih untuk waktu yang pernah kau berikan untukku,
Terimakasih untuk senyum manismu di waktu lalu,
Thanks for all, love u,
Aku terasing dalam kehingar bingaran dunia maya,
Menjelma menjadi seorang pujangga,
Menari di separuh malam,
Menyaksikan engkau menghilang dengan perlahan,
Kau menghilang tanpa ucapkan kata selamat tinggal,
Menorehkan duka dan kekecewaan yang teramat dalam,
Menenggelamkanku dalam peristiwa yang kini tinggal sebuah kenangan,
Selamat jalan orang tercinta,
Kita memang beda,
Bahkan jauh tanpa batas,
Mimpi tak akan pernah memberiku cinta,
Dan malam akan menjawab semuanya,
Terimakasih untuk waktu yang pernah kau berikan untukku,
Terimakasih untuk senyum manismu di waktu lalu,
Thanks for all, love u,
PAMIT
Sudah lelah aku mengejar bayangmu,
Sudah letih aku terlalu lama menunggu,
Kahlil Gibran bilang;
Kesejatian tidak menuntut pengakuan dan kepemilikan,
Biar ku musiumkan saja namamu di relung hatiku yang terdalam,
Hingga waktu berlalu,
Dan aku tetap mengenangmu.
Sudah letih aku terlalu lama menunggu,
Kahlil Gibran bilang;
Kesejatian tidak menuntut pengakuan dan kepemilikan,
Biar ku musiumkan saja namamu di relung hatiku yang terdalam,
Hingga waktu berlalu,
Dan aku tetap mengenangmu.
Langganan:
Komentar (Atom)
