Selasa, 30 Maret 2010

Dan,,,

Masa muda adalah mimpi indah yang sulit dilupakan,
Bagai buku-buku yang kaya akan ilmu,
Yang membersihkan debu-debu kegelapan,

Ya Rabb,
Akankah ada lagi hari,
Ketika kearifan bersambung dengan kegembiraan dan pengetahuan bagi kaum muda?
Akankah datang satu masa,
Ketika alam menjadi guru bagi manusia,
Kemudiaan kemanusiaan menjadi buku-bukunya,
Dan kehidupan menjadi sekolahnya,

Dan,,,
Apakah cita-citaku yang menyenangkan hati itu juga belum tercapai hingga hari itu datang?
Aku sadari, bbahwa langkahku dalammendaki tingkat spiritual yang lebih tinggi hanya jalan di tempat, karena semangat mudaku yang tersia-sia.

By. Asih Murniati Wakhid

Kangen

Kau tak akan pernah mengerti bagaimana kesepianku,
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta,
Kau tak akan mengerti segala lukaku,
Karena luka telah sembunyikan pisaunya,

Membayangkan wajahmu adalah siksa,
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan,

Engkau telah menjadi racun dalam darahku,
Apabila aku dalam kangen dan sepi,
Itulah berarti aku,
Tungku tanpa api.


Dikutip dari karya "si burung Merak Indonesia"

Senin, 29 Maret 2010

QS. Asy-Syu'ara' ayat 221-227 (para penyair)

Apakah akan Aku perlihatkan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun?

Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta yang lagi banyak dosa,


Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta,


Dan penyair-penyair itu di ikuti oleh orang-orang yang sesat,


Tidakkah kamu melihat, bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah,


Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya,


Kecuali; Orang-orang (penyair)yang beriman dan beramal sholeh dan menyebut nama Allahdan mendapat kemenangan sesudahmenderita kedzaliman. Dan orang-orang dzalim itukelak akan mengetahuike tempat mana mereka akan kembali.


Ketika Maaf Tak Ada Jawaban

Dalam keheningan malam aku masih menanti,
Sebuah jawab atas maaf yang pernah ku ucap,
Meski kau seakan tak pernah lagi mau peduli,
Dengan rasaku yang begitu menguras hati,

Wahai angin malam,,,
Bisikan ditelinganya, betapa aku rapuh tanpanya,
Betapa jiwa ini sangat membutuhkan kehadirannya,
Dan; Betapa raga ini takut kehilangannya,

Ya rabb, pemilik roh dalam jiwa-jiwa manusia,
Pemilik jiwa dalam setiap raga,
Penguasa alam beserta isinya,
Yang maha pengasih lagi penyayang,
Dan; yYang maha kuasa atas segala apa yang di inginkanNya,

Bersimpuh aku di hadapMu,
Mengharap kebesaran hatiMu,
Untuk membukakan mata hatinya yang sekeras batu itu,
Agar ia dapat melihat dan merasakan,
Betapa kata maafnya begitu aku harapkan,

Ya Rabb,
Bukakan pintu hatinya,
Agar ia tau bahwa Tuhannya maha bijaksana,
Agar ia mengerti bahwa Tuhannya maha pemurah,
Dan; Agar ia sadari bahwa Tuhannya saja maha pemaaf atas segala salah dan dosa-dosa hambanya.


Asih Murniati Wakhid

Minggu, 28 Maret 2010

Yang Tak Kan Terganti

Sayang,
Saat kau pandang aku,
Aku jadi tak menentu cintamu,
Ku pikir aku bukanlah yang engkau cari,
Dengan sabar aku menunggu,

Hatiku bagai rumah tak berpenghuni,
Kau selalu berpura-pura padaku,
Kau bawa aku pada jalanmu,
Kaulah segalanya yang aku butuhkan,
Untuk lalui lorong gelap kehidupan,

Cinta kadang membuat sakit hatiku,
Maafkan aku saat aku melakukan kesalahan,
Kadang sulit tuk bertahan,
Aku ingin melakukan sesuatu,
Untukmu kunyalakan bintang,
Agar engkau tahu,
Bahwa betapa jiwa ini mampu menantimu,
Hingga apapun yang akan terjadi,
Engkau tak akan pernah terganti.


By. Asih Murniati Wakhid

Pedihnya Sebuah Kerinduan

Wahai langit, tanyakan padaNya,
Mengapa Dia menciptakan sekeping hati,
Begitu rapuh dan terluka, manakala dihadapkan dengan duri-duri cinta,
Begitu kuat dan kokoh, saat berselimut cinta dan asa,

Mengapa Dia menciptakan rasa sayang dan rindu di dalam hati ini,
Mengisi kekosongan didalamnya,
Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih,
Menimbulkan segudang tanya,
Menghimpun berjuta asa,
Memberikan semangat,
Juga kepedihan yang tak terkira,

Mengapa Ia menciptakan kegelisahan di dalam jiwa,
Menghimpit bayangan,
Menyesakkan dada,
Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa,

Wahai ilalang,
Pernahkah engkau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini,
Mengapa hanya diam?
Katakan padaku sebuah kata yang bisa meredam gejolak jiwa ini,
Sesuatu yang dibutuhkan raga ini,
Sebagai pengobat rasa sakit yang tak terkendali,

Desiran anginMu membuat berisik dirimu,
Seolah ada sesuatuyang ingin Kau ucapkan padaku,
Aku tak tahu apa maksudnya,
Hanya menduga,
Bisikanmu mengatakan;
"ada seseorang di balik bukit sana, menunggumu dengan setia, menghargai apa arti cinta"

Hati terjatuh, terluka, merobek malam, menoreh seribu duka,
Ku kepakan sayap-sayap patahku,
Mengikuti hembusan angin yang berlalu,
Menancapkan rindu di ujung hati yang beku.


By. Asih Murniati Wakhid
Di kutip dari "broken wings"

Cinta Dan Rasa

Jika engkau mencintai kekasih hatimu karena ia pandai,
Itu bukan cinta, akan tetapi KAGUM,
Jika engkau mencintai kekasihmu karena fisiknya,
Itu bukan cinta, akan tetapi NAFSU,
Jika kamu mencintai kekasih hatimu karena harta kekayaannya,
Itu bukan cinta, akan tetapi MATRE,
Jika kamu mencintai kekasih hatimu karena kebaikkannya,
Itu bukan cinta, akan tetapi UNGKAPAN NTERIMA KASIH,

Tapi,,,
jika engkau mencintai kekasih hatimu,
Tanpa engkau tau kenapa engkau mencintainya,
Itulah Sedjatinya Cinta

By. Asih Murniati Wakhid

Hari Pemakamanku

Tak berdaya aku ketika tubuhku tertutup oleh gundukan tanah yang masih basah,
Perlahan semuanya pergi meninggalkanku,
Masih terdengar jelas dalam telingaku Langkah-langkah terakhir kaki mereka,
Aku sendirian saat ini,
Di tempat gelap yang tak pernah terbayang sebelumnya,
Sendiri aku disini, menunggu sebuah keputusan dan perhitungan,

Belahan jiwaku pun perlahan pergi meninggalkan gundukan tanah,
Malaikat kecilku, yang dalam tubuhnya pun mengalir darahku, tak jua tinggal,
Apa lagi sekedar kerabat, kawan dekat, sahabat, atau orang-orang lainnya,
Aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka,
Aku hanya jenazah yang sudah terkubur oleh gundukan tanah,

Ibuku menangis pilu penuh keharuan,
Aku pun tak kalah pilunya dari yang bliau rasakan,
Malaikat kecilku menangis karena kehilangan,
Dan demikian pula dengan yang aku rasakan,

Menyesal percuma saja,
Tobat sudah tidak lagi diterima,
Dan maafku pun tak bakal didengar,
Aku bener-benar sendiri saat ini,

Ya Rabb,,,
Entah dari mana lagi kekuatan itu datang,
Setelah sekian lama aku tak lagi dekat denganMu,
Andaikan saja Kau beri lagi aku satu kesempatan,
Untuk menghirup segarnya nafas kehidupan,
Meminjamkan waktumu beberapa hari saja untukku,
Walaupun ku tau, beberapa hari saja tak akan cukup untuk menghapus seluruh dosa-dosaku,
Tapi setidaknya, Aku masih memiliki waktu untuk berkeliling memohon maaf pada mereka;
Yang selama ini tersakiti olehku,
Yang selama ini sengsara karena aku,
Yang selama ini telah aku bohongi,
Yang selama ini telah kulukai hati dan perasaannya,

Aku harus kembalikan semua harta kotor ini,
Yang dikumpulkan oleh belahan jiwaku dengan wajah gembira,
Tanpa pernah menyisikan sedikit harta sebagai zakat mallnya,

Ya Rabb,,,
Beri aku beberapa hari lagi milikMu,
Untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta,
Teringat aku pada kenakalan saat remaja,
Saat aku sering membantah nasehat-nasehatnya,
Saat aku berbicara keras dan kasar pada mereka,
"Maafkan segala kesalahan dan khilafku ayah dan ibu,,,"
Sekarang baru aku sadari,
Betapa besar kasih sayang ayah dan ibuku,
Betapa tak pernah lelah mereka menyanyangiku,

Ya Rabb,,,
Beri aku satu lagi waktu,
Untuk berkumpul dengan belahan jiwa dan malaikat kecilku,
Untuk sungguh-sungguh bertaqwa kepadaMu,
Untuk sungguh-sungguh bersujud di hadapMu,
Dan Untuk menjalankan sunah-sunah rosulMu bersama mereka tentu,

Begitu penyesalan ini kini tak berarti lagi,
Karena hari telah berlalu tanpa makna,
Penuh dengan kesia-siaan,
Kesenangan yang pernah kuraih dulu kini sudah tidak ada artinya lagi,

Andai saja bisa ku putar ulang waktu,,,
Tapi sayang,,,
Aku harus dimakamkan hari ini,,,
Dan semua menjadi penyesalan yang begitu dalam,
Semuanya sudah terlambat,
Tak ada lagi yang dapat ku perbuat,
Hanya mengharap doa-doa yang tulus,
Dari sahabat, teman dekat, dan kerabat,

Aku kini sendiri dilorong gelap nan pengap,
Menunggu sebuah keputusan, perhitungan,
Dan pembalasan atas apa yang telah ku perbuat selama hidup di dunia,
Dalam ruang yang tak pernah aku bayangkan.


By. Asih Murniati Wakhid

Sabtu, 27 Maret 2010

B'day My Little Angel

Jakarta 7 Maret 2002
Tegal 7 Maret 2010

Rasanya baru kemarin nak' Ibu menggendongmu,
Menimang-nimang tubuh mungilmu,
Menyanyikan lagu nina bobo sebagai penghantar tidurmu,
Terjaga disaat kau menangis ditengah malam buta,
Dan,,,
Rasanya baru kemarin nak' Ibu melahirkanmu,
Berjuang mempertaruhkan nyawa demi kehadiranmu,

Kini genap 8 tahun sedah usiamu,
Walau kau tak lagi lucu seperti dulu,
Namun tetap, kau adalah sumber kebahagiaanku,
Sumber kekuatan dan kesabaran,
Dan sumber ketegaran yang aku miliki.

Jangan pernah takut untuk jalani hidup,
Ucap satu kata "tantangan" pada ombak yang datang menghadang,
Manakala kapaltelah berlayar di tenganh lautan,
Ucap satu kata "tegar" saat asa tak bersambut bahagia,
Manakala kau dapati kenyataan tak sesuai dengan apa yang engkau harapkan,
Anggaplah itu sebagai kesuksesan dan kebahagiaanmu yang tertunda.

Hidup untuk menjadi sesuatu itu sudah menjadi takdirnya,
Tapi jalan hidup tetap engkau yang mencarinya.

Selamat Ulang Tahun Malaikat kecilku,
Kebahagiaanlah yang selalu terucap dalam setiap do'a-do'a Ibu untukmu,
Sempga panjang umur dan sehat selalu,
Semoga menjadi manusia yang berkwalitas,
Berguna bagi keluarga, Agama, Nusa dan Bangsa.


By. Asih Murniati Wakhid

Kasmaran

Ketika cinta berhadapan dengan realita,
Seseorang cenderung kehilangan logika,
Cinta terkadang begitu indah dalam pesona,
Namun sering teramat buram, manakala berlumur kecewa,

Andai kata kerinduan bisa kujadikan mainan,
Betapa ku ingin menempatkan selalu di tepian angan,
Agar ku mudah meraihnya kembali,
Ketika aku sedang kasmaran,


By. Asih Murniati Wakhid

Dia

Desir angin malam menyapa lembut wajahku,
Menuntunku pada bayang wajah tampannya,
Wajah yang sesungguhnya tak pernah ku temui sebelumnya,
Wajah pria matang di dunia maya,

Bayangan dirinya selalu hiasi hari-hari sepiku,
Mengisi kekosongan hati, dan memberi sedikit inspirasi,

Senyumnya yang menawan, mampu cairkan hatiku yang beku,
Keangkuhannya justru menjadi daya tarik tersendiri untukku,
Oooh, wahai engkau pria matangku di dunia maya,
Adakah sama yang engkau rasakan,
Sebuah rasa yang aku sendiri tak mengerti apa namanya.


By. Asih Murniati Wakhid

Cinta oh cinta,,,

Mencintai bukanlah bagaimana kamu melupakan,
Melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN,
Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
Melainkan bagaimana kamu MENGERTI
Bukanlah apa yang kamu lihat,
Melainkan apa yang kamu RASAKAN,
Bukanlah bagaimana kamu melepaskan,
Tapi bagaimana kamu BERTAHAN.

Cinta mampu menembus ruang dan waktu,
Cinta mampu menaklukkan dendam di hatimu,
Cinta tak bersenjata, namun ia dapat melukai hatimu,
Cinta juga bukan sebuah taman bunga,
Tapi kehadirannya dapat memberi keindahan dihidupmu,
Itulah cinta dengan segala misteri di dalamnya,

Cinta memang bukan sumber bahagia,
Namun ketiadaan cinta adalah sumber derita.


By. Asih Murniati Wakhid

Asaku,,,

Saatnya ke kepakkan sayap-sayap patahku,
Meski luka masih terasa pedihnya,
Meski hati tak tak lagi mampu untuk mengingkari,
Hidup adalah perjuangan sayang,
Kapan aku akan maju,
Jika hanya berdiam diri seperti apa inginmu,

Kau memerdekakan dirimu sendiri,
Merasa paling benar atas nafkah lahir yang telah engkau berikan,
Dimanakah hati dan perasaanmu sayang,
Ketika engkau merampas semua kemerdekaan yang aku miliki?

Tak ada lagi kasih dan sayang darimu yang aku rasakan ketika engkau jauh,
Tak pernah lagi aku merasakan perhatian darimu saat kau tak ada disisiku,
Kau terasa asing bagiku,
Kau bukan lagi laki-laki yang pernah aku kenal dulu,

Sayang,,,
Jika memang bahagiaku tertunda oleh sang waktu,
Ku ingin merenggutnya hanya bersamamu,
Karena yang sesungguhnyalah,
Bahagiaku hanya jika berada dalam pelukmu,


By. Asih Murniati Wakhid

Bintang Malam

Aku laksana bintang di kegelapan malam,
Yang tak akan mungkin memberikan cahaya terang laksana rembulan,
Yang tak mampu memberikan kehangatan laksana mentari di pagi hari,
Karena,,,
Cukuplah bagiku menjadi penghiasa angkasa,
Manakala malam menjelang,
Tatkala raga terlelap dalam dekapan sanng malam,

Sayang,,,
Mimpi tak pernah memberiku cinta,
Malam telah menjawab semuanya,
Andai asa masih dapat untuk kuraih,
Andai cita masih dapat untuk ku gapai,
Ingin rasanya menjadi bintang di hatimu,
menempati ruang dikalbumu,
Dan menjadi bagian terindah dalam hidupmu,

Wahai penghuni kegelapan malam,
tolong sampaikan padanya,
Bahwa aku cinta dia,
Bahwa aku rindu dia,
Bahwa aku butuh dia,
Dan bahwa aku ada karena hadirnya semata,

Terimakasih ya Rabb,
Untuk segala anugerah yang telah Engkau berikan,
Termasuk kesempatan untuk dapat mengenalnya lebih dekat,
Amin ya Rabbal Alamiiin,,,


By. Asih Murniati Wakhid
Tegal, 13 Maret 2010

Cinta dan wanita

Hati seorang wanita tidak akan berubah hanya karena musim dan waktu,
Bahkan sekalipun ia harus mati berkali-kali,
Cinta seorang wanita tak akan pernah hilang.
Hati seorang wanita tak ubahnya ladang yang berubah menjadi medan pertempuran,
Setelah pohon-pohon tercabut,
Dan rerumputan terbakar,
Saat batu-batu memerah oleh cucuran darah,
Dan bumi ditanami tulang-tulang dan kerangka-kerangka mayat,
Ia akan tetap tenang dan diam,
Seakan-akan tidak pernah terjadiapa-apa,
Hingga musim panas dan hujan datang secara bergantian untuk menyelesaikan tugasnya.


Dikutip dari:
"Broken Wings"

Misteri Kehidupan

Nyaman aku dalam kesendirian,
Tanpa rasa takut kehilangan,
Rasa yang dijalankan dengan tidak sederhana,
Munafik, tertutup oleh kepura-pura'an,

Sekian lamanya aku hidup dalam keterpurukan,
Menangis dalam sebuah kerinduan yang dalam,
Menjerit namun tiada ada yang mendengar,
Sendiri lalui hari dan heningnya malam,

Terimakasih Ya Rabb,
Kutemukan hikmah dalam setiap skenarioMu,

By. Asih Murniati Wakhid

Senja Itu Di Media


Aku mengenalnya sekian bulan yang lalu. Namanya Widi. Cakep? Enggak juga, tapi daya pikatnya sungguh luar biasa sekali. Ia memiliki keistimewaan khusus yang amat menonjol, kharismatik kalau ku bilang. Dalam bening bola matanya kutemukan teduh yang kudamba, kedamaian begitu terasa saat berada bersamanya. Sekilas Ia mirip aktor Cok Sembara.

"kamu naksir cowok dalam photo itu?" tanya Alya temenku, ketika tanpa sengaja melihat photo Widi di layar depan ponsel milikku.
"hah? naksir? enggak banget lhah ya" jawabku membohongi diri.
"ups' tapi sepertinya aku pernah melihat photo itu, tapi dimana yaaa...?" lanjut Alya sambil mengaruk-garukan kepalanya, mencoba mengingat-ingat tempat dimana ia pernah melihat photo laki-laki yang ada dalam layar depan ponsel milikku.
"oh iyaaa, aku ingat sekarang, pernah liat photo itu dalam daftar teman facebookmu.
"Ya ya ya ya ya, dia teman di facebookmu kan?"
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, ia lebih dulu meneruskan ucapanya.
"tapi hati-hati lho, sepertinya dia aktivis"
"hmm, tau dari mana kamu kalau dia seorang aktivis?" tanyaku penasaran, karena ku pikir temanku mengenalnya, secara ia juga seorang aktivis.
"liat aja tuh status-statusnya di facebook" tunjuk Alya ke arah layar monitorku yang memang sejak tadi memang sudah menyala.
"ada yang bilang, seorang aktivis itu ruh dan jasadnya milik orang banyak, hidupnya untuk kepentingan orang banyak, begitu pun dengan waktunya, ia akan mengorbankan apapun demi tujuan utamanya, cinta bukan hal yang utama baginya, walau pun sesungguhnya tiada seorang pun yang mampu hidup tanpa cinta. Seorang aktivis juga pandai bermain dengan kata-kata, sebagai modal untuk meyakinkan apa yang ia katakan. Jangan terjebak, apalagi sampai menjadi korban jatuh cinta, so' kamu akan kecewa karena selalu di nomer duakan." lagi-lagi Alya mengingatkanku sambil membuka akun facebooknya di laptop milikku.

"kalau cuma bermain dengan kata-kata sih aku juga bisa bisa kali?"
"yakin? kamu ga akan kecewa jika selalu di nomer duakan, sebab dia akan lebih mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang cintanya lho?"
"masa sih sampe segitunya? yang ada juga dia kali yang akan menomer duakan ke aktivisannya" candaku dalam kekhawatiran yang aku sembunyikan.

Dan sejak saat itulah aku mulai rajin memikirkan Widi. Bahkan secara over. Bayangkan saja! Di mana pun aku berada bayangan wajah Widi selalu bercokol dikepala. Di kamar, di jalan, di tempat aktifitas, bahkan di kamar kecil sekalipun aku masih memikirkannya. Pokoknya gak milih tempat dan situasi.

Nampaknya kegilaan yang sudah melewati titik optimum. Namun sebenarnya tidak juga, karena betapa pun aku merindukan Widi habis-habisan, ada satu faktor yang tidak bisa aku langkahi; Etika, itu prinsip yang tidak bisa diganggu gugat.

Memikirkan Widi adalah suatu beban tersendiri bagiku. Diam-diam aku berharap Widi juga memikirkan aku, sebab mustahil ia tidak tahu apa yang aku pendam kepadanya. Aku yakin ia pasti tahu betapa birunya rindu yang senantiasa aku rasakan kepadanya.

Jujur saja beberapa kali aku sempat tergoda untuk berbuat nekat, ketika Widi menawarkan sebuah pertemuan. Tapi untunglah semua tidak kutanggapi dengan serius, butuh waktu lama untuk lebih dulu mengenalnya, walau sebatas di dunia maya. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menemuinya manakala Widi memberitahuku bahwa dirinya sedang sakit kala itu.

"Ya, loe pulang kuliyah jam berapa, selepas kuliyah, nganterin gue ketemu Widi mau nggak?" Tanyaku pada Alya via telpon.
"What??? udah nggak waras loe ya? bener-bener gila loe. Woee,,, sadar honey bunny sweatyku,,, loe cewek, belum kenal pula sama dia, ngapain nyamperin dia? dia bakal gede kepala tau kalo sampe loe samperin" jawab Alya nyerocos kaya petasan.
"Ya, dengerin gue dulu, Widi dari kemarin kasih tau gue kalo dia tuh lagi sakit. Sehatnya bolehlah gue tega dan mengabaikan perasaan gue, tapi kali ini dia sakit Ya, masa gue mau tetep tega si? perlahan ku coba menjelaskan alasanku memutuskan untuk menemui Widi hari itu.
"Ya udah kalo gitu, loe tunggu gue di cafe biasa, 15 menit lagi gue nyampe sana"

Jarum jam baru menunjukan angka 2, aku sengaja datang lebih awal dari waktu yang aku janjikan dengan Alya, tapi jenuh juga rupanya menunggu. Iseng-iseng ku buka akun facebook milikku via ponsel, Ops' Widi sedang online, sesegera mungkin ku kirimkan pesan padanya, ku beri tau bahwa aku akan segera meluncur ketempat dimana dia berada saat ini, aku juga memberi tau jika aku akan datang ditemani oleh seorang teman.

"Yul, dah dari tadi loe nunggu gue?" Sapa Alya seraya menjabat dan mencium pipi kanan/kiriku. "lumayan lhah, loe mau minum apa? pesen dulu sana, jalannya bentar lagi, nunggu Widi mbales pesenku barusan".

"Woe' dah 15menit Non, keburu sore nanti, loe pulangnya gimana? Mau jalan ke tempat Widi nggak sih?"
"Bingung Ya, dari tadi Widi nggak bales pesenku" jawabku penuh kebimbangan.
"Emang dia ada dimana? di hotel tempat dia biasa menginap kalau lagi tugas di Tegal bukan?
"Bukan Ya, dia ada di warnet tempat usaha yang dibuka oleh kawannya. Bingung gue Ya, batalin aja deh, terus kita jalan-jalan aja yu?" Aku coba mengajak Alya jalan-jalan setelah ku putuskan untuk membatalkan pertemuanku dengan Widi sore ini.

Lelah kakiku melangkah, menelusuri tiap sudut pertokoan di pusat kota Tegal. Tanpa terasa 2 jam sudah aku dan Alya berkeliling disana, tanpa satu barang pun yang menarik perhatianku.
"Ya, balik yu? dah jam setengah enam tau"
"Ya udah, loe mau langsung balik ato mampir ke rumah gue?" Jawab Alya menawarkan ampiran padaku.
"Hmm, kaya'nya nggak deh, udah sore banget, lain kali aja ya? Thanks banget untuk waktunya, dan it's sorry, cuma ngerjain loe aja, karena ternyata `batal nemuin Widi". Jawabku sambil memarkir motor.

Alya cuma tersenyum, dia memang teman yang paling mengerti aku. Selalu ada disaat aku butuhkan, pokoknya ibarat makanan, dia special deh, komplit banget sih soalnya. Motor Alya melaju lebih dulu, tak lama kemudian menghilang diantara keremangan senja nan memerah. Sementara aku masih terpaku diatas jok motor mililikku. "Hmm, pulang tanpa hasil, atau nekad menemui Widi seorang diri?" berkali-kali pertanyaan itu terlintas dalam fikiranku, hingga akhirnya ku putuskan untuk menemui Widi seorang diri.
"Aku harus menemui Widi, untuk menjenguknya yang sedang sakit, untuk mengetahui sosok aslinya seperti apa, yah, apapun yang terjadi itu tergantung dari niat hati kita itu sendiri" gumamku dalam hati sambil meyakinkan diri, bahwa tak akan terjadi apa-apa denganku nanti.

"Bismilahirrohmanirrohiiiim,,," Do'aku mengawali langkah kaki menaiki motor butut yang sudah 6 tahun lebih setia menemaniku. Tak putus-putusnya aku berdo'a sepanjang perjalanan, agar aku selalu dalam lindungan Tuhan, sebab ini kali pertamanya untukku bertemu dengan orang yang sama sekali belum aku kenal.

Motorku sudah mendekati tempat dimana Widi berada. Dekup jantungku berdetak kian kencang tak beraturan.
"Ya Rabb, lindungi aku, aku hanya ingin melihat wajah manusia yang selama ini menghantui tiap hela nafasku" do'aku dalam hati.
Di sebrang jalan aku berhenti sejenak, masih terus berfikir, menyebrang dan menemui Widi, atau tetap lurus mengikuti jalan dan melaju untuk pulang?
"Ah' tunggu apa lagi, kesempatan tidak datang untuk dua kali" gumamku sambil menarik gas motor menyebrangi jalan utama menuju Warnet Media.
Ku parkir motorku tepat di depan Warnet, kemudian ku ayunkan langkahku menuju kursi tempat beberapa orang sedang bercengkrama di sana.
"Sore, numpang tanya, di sini ada Mas Widi?" Sapaku pada mereka.
"Widi...?" Satu dari mereka meminta kejelasan tentang Widi yang aku cari.
"Widi Prabowo, mas, bener dia ada di sini?" tanyaku pada seoarang laki-laki yang wajahnya agak tidak asing buatku.
"Ooo... Widi? ada mba di dalam, dia duduk paling pojok, silahkan masuk" wajah ramah dari pemuda itu mempersilahkanku untuk masuk ke dalam warnet, sambil membukakan pintu warnet.


"ya Tuhan, kenapa mendadak jadi demam begini" gumamku dalam hati.
Segala rasa berkecambuk dalam dada, Rasa bahagia, rasa takut, dan rasa tidak percaya.
"mari mba" ajak anak muda mengantarkanku ke tempat dimana Widi duduk.
Belum lagi langkahku sampai ke tempat duduk Widi telah memberi senyumannya, senyuman yang selama ini menghiasi angan dan mimpiku.
"Yuli" ucapku seraya mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.
Widi menyambut uluran tanganku, lalu mempersilahkanku duduk.
Masih dengan senyumannya yang menawan itu ia mengawali obrolannya dengan bertanya padaku: "bawa air mineral dalam botol?"
"lho, ko tau Wid?" lagi-lagi Widi Widi hanya tersenyum, senyum yang teramat manis.
"bawa coklat donk?" lanjutnya masih dengan senyumannya yang menawan.
"hah? kok tau lagi sih? dari mana bisa tau kalau aku selalu membawa bekal sebotol air mineral dan sedikitnya satu buah coklat tiap kali berpergian?
Tak ada jawaban dari bibirnya, kecuali senyumnya yang sangat menawan lagi manis itu, yang memberi kesan ia bangga karena bisa menebak kebiasaanku dengan benar. Ooh, andai saja dapat kulukiskan kebahagiaan ini dilangit yang kian redup tanpa sinar, tentunya akan ku biaskan warna pelangi, agar seluruh dunia tau, betapa bahagianya aku senja ini.

Tak ku temukan sosok Widi yang ku kenal di dunia maya senja itu. Bagaimana tidak? Karena Widi yang ku kenal di dunia maya tak seramah dan sehangat saat ini. Widi yang ku kenal di dunia maya begitu angkuh, sinis, ketus dan dingin. Ia bahkan tak pernah menyapaku lebih dulu walau pun terjebak dalam kotak obrolan yang sama. Yah, Widi orang yang selalu memberi komentar pedas di setiap status yang aku buat. Tapi anehnya, justru keangkuhannya itulah yang membuat aku tertarik pada kepribadiaanya yang ku bilang unik.

"O'ow, dah masuk waktu sholat maghrib Wid," ucapku memotong obrolan.
"mau sholat yah? bentar biar temanku yang nganterin kamu ke Mushalla. Widi memanggil temannya, kemudian menyuruhnya mengantarkanku ke Mushalla yang letaknya tidak jauh dari warnet itu.

Ya Rabb, akhirnya aku bisa bertemu dengan orang terangkuh itu, dengan manusia yang selama ini kerap membayangi langkahku, Thanks to Allah, untuk kesempatan yang telah Engkau berikan.

"Mba, mau sholat? ambil air wudhunya disana" Seseorang menyapaku, sambil menunjuk ke arah tempat mengambil air wudhu, menyadarkanku dari lamunan tentang pertemuan yang sebelumnya tiada pernah ku bayangkan.
"Eh iya mba, makasih ya?" jawabku sambil melangkahkan kaki menuju tempat mengambil air wudhu, lalu ku lanjutkan dengan sholat.

Selesai sholat aku kembali ke warnet, tempat dimana aku tadi duduk dan ngorol dengan Widi.

"sudah selesai sholatnya?" Tanya Widi mengawali obrolan sambil mempersilahkanku duduk di depan layar monitornya.
"Udah, ga papa nih?" tanyaku sekedar mempertegas penawarannya untuk numpang on line di tempatnya.
"silahkan" jawabnya masih dengan senyumnya yang teramat manis itu.
Berbagai masalah di bahas Widi dalam obrolan senja itu, termasuk status-status dan catatan-catatanku di facebook. Widi menyarankanku untuk menjadikan facebook sebagai wadah hiburan dan kesenangan, bukan sebagai wadah curahan hati seperti yang selama ini aku lakukan. Karena menurutnya, status-status dan catatan-catatan yang aku buat terlalu vulgar terlalu membuka jati diri dan masalah pribadi, meskipun penyampaiannya tidak secara langsung, tapi menurutnya itu dapat terbaca oleh orang-orang yang memang mengerti harafiahnya.

Tak terasa waktu telah menunjukan angka 7 lebih 30 menit.
"dah jam setengah delapan malam Wid, aku musti pulang" ucapku sambil membenahi tas yang sejak tadi tegeletak di bawah.
"lho, bukannya kamu pernah bilang punya waktu bermain sampai jam sembilan malam? ini belum jam sembilan lho, dan aku menagih omongan kamu itu"
"iya Wid, tapi kan jarak antara warnet dengan rumahku jauh, jadi ku musti pulang, udah malem"

Ada rasa yang ku sembunyikan dari Widi. Seandainya dia tahu, betapa sesungguhnya aku pun tidak ingin beranjak dari tempat itu. Aku masih ingin lebih lama lagi bersamanya. Sehari sekalipun rasanya tak akan pernah cukup untuk menghabiskan waktu bersamanya.

Dengan berat hati terpaksa aku pamit.
"aku pulang dulu ya?"
"jadi beneran mau pulang? yang lain betah lho disini? Terus bagaimana dengan tanggal 4 Agustus nanti?" Tanya Widi dengan nada meledek seakan tau bahwa sesungguhnya aku enggan untuk pulang.
"ya bener lhaaah, masa bo'ongan sih? Tanggal 4 Agustus? kan udah ketemu? jadi tanpa tangga tanggal 4 Agustus pun tak apalah, lagi pula masih bisa ketemu lagi di lain waktu?"
"lain waktu? kaya'nya udah ga bisa deh, besok belum tentu aku masih di sini" jawabnya memutuskan harapanku.
"ya udah lhah kalau memang sudah tidak bisa bertemu lagi, tapi setidaknya aku sudah tidak penasaran lagi dengan laki-laki super angkuh sinis, ketus, dan dingin yang pernah ku kenal di dunia maya itu" jawabku menghibur diri, sambil beranjak dari tempat dudukku.

Widi mengantarkanku sampai ke depan teras Media. Masih dengan senyumannya yang menawan itu, ia berpesan padaku;
"sering-sering kesini ya, di sini apa aja ada lho, bubur ayam atau nasi uduk kesukaanmu juga ada"
"hah????" Mataku terbelalak tak percaya mendengarnya, dari siapa lagi dia tahu makanan kesukaanku, setelah di dalam tadi ia bedah semua yang ia ketahui tentangku. Aneh, ia bisa tau banyak tentangku. Padahal rasanya mustahil jika ada temanku yang memberi tahu, sebab seingatku, tak ada satu pun teman dekatku yang juga menjadi temannya, dalam facebook sekalipun.

"pulang ya?" pamitku dengan berat hati, sambil mengulurkan tangan sebagai tanda perpisahan.
Widi menyambut uluran tanganku, sambil berpesan;
"hati-hati di jalan, helmnya di pake tuh"

Dengan berat hati aku meninggalkan warnet dan Widi malam itu. Menembus kegelapan dan dinginnya angin malam di kota Tegal. Seiring asa yang ku tanam dalam dada, agar pertemuan senja tadi menjadi awal yang indah.

"Terimakasih Widi, untuk waktu yang telah engkau tawarkan, untuk kesempatan yang telah engkau berikan, dan untuk semua yang secara tidak langsung telah memberi warna indah di hidupku"


Tegal, 12 Maret 2010

Sembilan Tahun Pernikahanku

Jakarta, kamis 22 Februari 2001
Tegal, Senin 22 Februari 2010

Duhai suamiku, ayah dari putriku,

Manusia yang telah sempurnakan hidupku,
Ku akui ku kerap merasakan ketidak adilan ini,
Aturan yang kau buat telah membelenggu ruang gerakku,
Memenjarakanku pada bahtera yang seharusnya kita lalui berdua,

Oooh,,,
Andai tiap saat aku mampu mensyukuri semuanya,
Menganggap jika aturanmu itu sebagai bukti nyata cintamu kepadaku,
Menilai betapa engkau takut kehilanganku,
Mungkin tak akan ada lagi aku yang merasa tersiksa,
Mungkin tak akan ada lagi aku yang merasa terdzolimi,

Karena,,,
Betapapun jauh jarak yang membentang memisahkan kita,
Ku yakin dan percaya,
Bahwa hati dan ragamu hanya untukku.

Love U my hubby, dari doeloe, sekarang, dan selamanya.

By. Asih Murniati Wakhid