
Aku mengenalnya sekian bulan yang lalu. Namanya Widi. Cakep? Enggak juga, tapi daya pikatnya sungguh luar biasa sekali. Ia memiliki keistimewaan khusus yang amat menonjol, kharismatik kalau ku bilang. Dalam bening bola matanya kutemukan teduh yang kudamba, kedamaian begitu terasa saat berada bersamanya. Sekilas Ia mirip aktor Cok Sembara.
"kamu naksir cowok dalam photo itu?" tanya Alya temenku, ketika tanpa sengaja melihat photo Widi di layar depan ponsel milikku.
"hah? naksir? enggak banget lhah ya" jawabku membohongi diri.
"ups' tapi sepertinya aku pernah melihat photo itu, tapi dimana yaaa...?" lanjut Alya sambil mengaruk-garukan kepalanya, mencoba mengingat-ingat tempat dimana ia pernah melihat photo laki-laki yang ada dalam layar depan ponsel milikku.
"oh iyaaa, aku ingat sekarang, pernah liat photo itu dalam daftar teman facebookmu.
"Ya ya ya ya ya, dia teman di facebookmu kan?"
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, ia lebih dulu meneruskan ucapanya.
"tapi hati-hati lho, sepertinya dia aktivis"
"hmm, tau dari mana kamu kalau dia seorang aktivis?" tanyaku penasaran, karena ku pikir temanku mengenalnya, secara ia juga seorang aktivis.
"liat aja tuh status-statusnya di facebook" tunjuk Alya ke arah layar monitorku yang memang sejak tadi memang sudah menyala.
"ada yang bilang, seorang aktivis itu ruh dan jasadnya milik orang banyak, hidupnya untuk kepentingan orang banyak, begitu pun dengan waktunya, ia akan mengorbankan apapun demi tujuan utamanya, cinta bukan hal yang utama baginya, walau pun sesungguhnya tiada seorang pun yang mampu hidup tanpa cinta. Seorang aktivis juga pandai bermain dengan kata-kata, sebagai modal untuk meyakinkan apa yang ia katakan. Jangan terjebak, apalagi sampai menjadi korban jatuh cinta, so' kamu akan kecewa karena selalu di nomer duakan." lagi-lagi Alya mengingatkanku sambil membuka akun facebooknya di laptop milikku.
"kalau cuma bermain dengan kata-kata sih aku juga bisa bisa kali?"
"yakin? kamu ga akan kecewa jika selalu di nomer duakan, sebab dia akan lebih mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang cintanya lho?"
"masa sih sampe segitunya? yang ada juga dia kali yang akan menomer duakan ke aktivisannya" candaku dalam kekhawatiran yang aku sembunyikan.
Dan sejak saat itulah aku mulai rajin memikirkan Widi. Bahkan secara over. Bayangkan saja! Di mana pun aku berada bayangan wajah Widi selalu bercokol dikepala. Di kamar, di jalan, di tempat aktifitas, bahkan di kamar kecil sekalipun aku masih memikirkannya. Pokoknya gak milih tempat dan situasi.
Nampaknya kegilaan yang sudah melewati titik optimum. Namun sebenarnya tidak juga, karena betapa pun aku merindukan Widi habis-habisan, ada satu faktor yang tidak bisa aku langkahi; Etika, itu prinsip yang tidak bisa diganggu gugat.
Memikirkan Widi adalah suatu beban tersendiri bagiku. Diam-diam aku berharap Widi juga memikirkan aku, sebab mustahil ia tidak tahu apa yang aku pendam kepadanya. Aku yakin ia pasti tahu betapa birunya rindu yang senantiasa aku rasakan kepadanya.
Jujur saja beberapa kali aku sempat tergoda untuk berbuat nekat, ketika Widi menawarkan sebuah pertemuan. Tapi untunglah semua tidak kutanggapi dengan serius, butuh waktu lama untuk lebih dulu mengenalnya, walau sebatas di dunia maya. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menemuinya manakala Widi memberitahuku bahwa dirinya sedang sakit kala itu.
"Ya, loe pulang kuliyah jam berapa, selepas kuliyah, nganterin gue ketemu Widi mau nggak?" Tanyaku pada Alya via telpon.
"What??? udah nggak waras loe ya? bener-bener gila loe. Woee,,, sadar honey bunny sweatyku,,, loe cewek, belum kenal pula sama dia, ngapain nyamperin dia? dia bakal gede kepala tau kalo sampe loe samperin" jawab Alya nyerocos kaya petasan.
"Ya, dengerin gue dulu, Widi dari kemarin kasih tau gue kalo dia tuh lagi sakit. Sehatnya bolehlah gue tega dan mengabaikan perasaan gue, tapi kali ini dia sakit Ya, masa gue mau tetep tega si? perlahan ku coba menjelaskan alasanku memutuskan untuk menemui Widi hari itu.
"Ya udah kalo gitu, loe tunggu gue di cafe biasa, 15 menit lagi gue nyampe sana"
Jarum jam baru menunjukan angka 2, aku sengaja datang lebih awal dari waktu yang aku janjikan dengan Alya, tapi jenuh juga rupanya menunggu. Iseng-iseng ku buka akun facebook milikku via ponsel, Ops' Widi sedang online, sesegera mungkin ku kirimkan pesan padanya, ku beri tau bahwa aku akan segera meluncur ketempat dimana dia berada saat ini, aku juga memberi tau jika aku akan datang ditemani oleh seorang teman.
"Yul, dah dari tadi loe nunggu gue?" Sapa Alya seraya menjabat dan mencium pipi kanan/kiriku. "lumayan lhah, loe mau minum apa? pesen dulu sana, jalannya bentar lagi, nunggu Widi mbales pesenku barusan".
"Woe' dah 15menit Non, keburu sore nanti, loe pulangnya gimana? Mau jalan ke tempat Widi nggak sih?"
"Bingung Ya, dari tadi Widi nggak bales pesenku" jawabku penuh kebimbangan.
"Emang dia ada dimana? di hotel tempat dia biasa menginap kalau lagi tugas di Tegal bukan?
"Bukan Ya, dia ada di warnet tempat usaha yang dibuka oleh kawannya. Bingung gue Ya, batalin aja deh, terus kita jalan-jalan aja yu?" Aku coba mengajak Alya jalan-jalan setelah ku putuskan untuk membatalkan pertemuanku dengan Widi sore ini.
Lelah kakiku melangkah, menelusuri tiap sudut pertokoan di pusat kota Tegal. Tanpa terasa 2 jam sudah aku dan Alya berkeliling disana, tanpa satu barang pun yang menarik perhatianku.
"Ya, balik yu? dah jam setengah enam tau"
"Ya udah, loe mau langsung balik ato mampir ke rumah gue?" Jawab Alya menawarkan ampiran padaku.
"Hmm, kaya'nya nggak deh, udah sore banget, lain kali aja ya? Thanks banget untuk waktunya, dan it's sorry, cuma ngerjain loe aja, karena ternyata `batal nemuin Widi". Jawabku sambil memarkir motor.
Alya cuma tersenyum, dia memang teman yang paling mengerti aku. Selalu ada disaat aku butuhkan, pokoknya ibarat makanan, dia special deh, komplit banget sih soalnya. Motor Alya melaju lebih dulu, tak lama kemudian menghilang diantara keremangan senja nan memerah. Sementara aku masih terpaku diatas jok motor mililikku. "Hmm, pulang tanpa hasil, atau nekad menemui Widi seorang diri?" berkali-kali pertanyaan itu terlintas dalam fikiranku, hingga akhirnya ku putuskan untuk menemui Widi seorang diri.
"Aku harus menemui Widi, untuk menjenguknya yang sedang sakit, untuk mengetahui sosok aslinya seperti apa, yah, apapun yang terjadi itu tergantung dari niat hati kita itu sendiri" gumamku dalam hati sambil meyakinkan diri, bahwa tak akan terjadi apa-apa denganku nanti.
"Bismilahirrohmanirrohiiiim,,," Do'aku mengawali langkah kaki menaiki motor butut yang sudah 6 tahun lebih setia menemaniku. Tak putus-putusnya aku berdo'a sepanjang perjalanan, agar aku selalu dalam lindungan Tuhan, sebab ini kali pertamanya untukku bertemu dengan orang yang sama sekali belum aku kenal.
Motorku sudah mendekati tempat dimana Widi berada. Dekup jantungku berdetak kian kencang tak beraturan.
"Ya Rabb, lindungi aku, aku hanya ingin melihat wajah manusia yang selama ini menghantui tiap hela nafasku" do'aku dalam hati.
Di sebrang jalan aku berhenti sejenak, masih terus berfikir, menyebrang dan menemui Widi, atau tetap lurus mengikuti jalan dan melaju untuk pulang?
"Ah' tunggu apa lagi, kesempatan tidak datang untuk dua kali" gumamku sambil menarik gas motor menyebrangi jalan utama menuju Warnet Media.
Ku parkir motorku tepat di depan Warnet, kemudian ku ayunkan langkahku menuju kursi tempat beberapa orang sedang bercengkrama di sana.
"Sore, numpang tanya, di sini ada Mas Widi?" Sapaku pada mereka.
"Widi...?" Satu dari mereka meminta kejelasan tentang Widi yang aku cari.
"Widi Prabowo, mas, bener dia ada di sini?" tanyaku pada seoarang laki-laki yang wajahnya agak tidak asing buatku.
"Ooo... Widi? ada mba di dalam, dia duduk paling pojok, silahkan masuk" wajah ramah dari pemuda itu mempersilahkanku untuk masuk ke dalam warnet, sambil membukakan pintu warnet.
"ya Tuhan, kenapa mendadak jadi demam begini" gumamku dalam hati.
Segala rasa berkecambuk dalam dada, Rasa bahagia, rasa takut, dan rasa tidak percaya.
"mari mba" ajak anak muda mengantarkanku ke tempat dimana Widi duduk.
Belum lagi langkahku sampai ke tempat duduk Widi telah memberi senyumannya, senyuman yang selama ini menghiasi angan dan mimpiku.
"Yuli" ucapku seraya mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.
Widi menyambut uluran tanganku, lalu mempersilahkanku duduk.
Masih dengan senyumannya yang menawan itu ia mengawali obrolannya dengan bertanya padaku: "bawa air mineral dalam botol?"
"lho, ko tau Wid?" lagi-lagi Widi Widi hanya tersenyum, senyum yang teramat manis.
"bawa coklat donk?" lanjutnya masih dengan senyumannya yang menawan.
"hah? kok tau lagi sih? dari mana bisa tau kalau aku selalu membawa bekal sebotol air mineral dan sedikitnya satu buah coklat tiap kali berpergian?
Tak ada jawaban dari bibirnya, kecuali senyumnya yang sangat menawan lagi manis itu, yang memberi kesan ia bangga karena bisa menebak kebiasaanku dengan benar. Ooh, andai saja dapat kulukiskan kebahagiaan ini dilangit yang kian redup tanpa sinar, tentunya akan ku biaskan warna pelangi, agar seluruh dunia tau, betapa bahagianya aku senja ini.
Tak ku temukan sosok Widi yang ku kenal di dunia maya senja itu. Bagaimana tidak? Karena Widi yang ku kenal di dunia maya tak seramah dan sehangat saat ini. Widi yang ku kenal di dunia maya begitu angkuh, sinis, ketus dan dingin. Ia bahkan tak pernah menyapaku lebih dulu walau pun terjebak dalam kotak obrolan yang sama. Yah, Widi orang yang selalu memberi komentar pedas di setiap status yang aku buat. Tapi anehnya, justru keangkuhannya itulah yang membuat aku tertarik pada kepribadiaanya yang ku bilang unik.
"O'ow, dah masuk waktu sholat maghrib Wid," ucapku memotong obrolan.
"mau sholat yah? bentar biar temanku yang nganterin kamu ke Mushalla. Widi memanggil temannya, kemudian menyuruhnya mengantarkanku ke Mushalla yang letaknya tidak jauh dari warnet itu.
Ya Rabb, akhirnya aku bisa bertemu dengan orang terangkuh itu, dengan manusia yang selama ini kerap membayangi langkahku, Thanks to Allah, untuk kesempatan yang telah Engkau berikan.
"Mba, mau sholat? ambil air wudhunya disana" Seseorang menyapaku, sambil menunjuk ke arah tempat mengambil air wudhu, menyadarkanku dari lamunan tentang pertemuan yang sebelumnya tiada pernah ku bayangkan.
"Eh iya mba, makasih ya?" jawabku sambil melangkahkan kaki menuju tempat mengambil air wudhu, lalu ku lanjutkan dengan sholat.
Selesai sholat aku kembali ke warnet, tempat dimana aku tadi duduk dan ngorol dengan Widi.
"sudah selesai sholatnya?" Tanya Widi mengawali obrolan sambil mempersilahkanku duduk di depan layar monitornya.
"Udah, ga papa nih?" tanyaku sekedar mempertegas penawarannya untuk numpang on line di tempatnya.
"silahkan" jawabnya masih dengan senyumnya yang teramat manis itu.
Berbagai masalah di bahas Widi dalam obrolan senja itu, termasuk status-status dan catatan-catatanku di facebook. Widi menyarankanku untuk menjadikan facebook sebagai wadah hiburan dan kesenangan, bukan sebagai wadah curahan hati seperti yang selama ini aku lakukan. Karena menurutnya, status-status dan catatan-catatan yang aku buat terlalu vulgar terlalu membuka jati diri dan masalah pribadi, meskipun penyampaiannya tidak secara langsung, tapi menurutnya itu dapat terbaca oleh orang-orang yang memang mengerti harafiahnya.
Tak terasa waktu telah menunjukan angka 7 lebih 30 menit.
"dah jam setengah delapan malam Wid, aku musti pulang" ucapku sambil membenahi tas yang sejak tadi tegeletak di bawah.
"lho, bukannya kamu pernah bilang punya waktu bermain sampai jam sembilan malam? ini belum jam sembilan lho, dan aku menagih omongan kamu itu"
"iya Wid, tapi kan jarak antara warnet dengan rumahku jauh, jadi ku musti pulang, udah malem"
Ada rasa yang ku sembunyikan dari Widi. Seandainya dia tahu, betapa sesungguhnya aku pun tidak ingin beranjak dari tempat itu. Aku masih ingin lebih lama lagi bersamanya. Sehari sekalipun rasanya tak akan pernah cukup untuk menghabiskan waktu bersamanya.
Dengan berat hati terpaksa aku pamit.
"aku pulang dulu ya?"
"jadi beneran mau pulang? yang lain betah lho disini? Terus bagaimana dengan tanggal 4 Agustus nanti?" Tanya Widi dengan nada meledek seakan tau bahwa sesungguhnya aku enggan untuk pulang.
"ya bener lhaaah, masa bo'ongan sih? Tanggal 4 Agustus? kan udah ketemu? jadi tanpa tangga tanggal 4 Agustus pun tak apalah, lagi pula masih bisa ketemu lagi di lain waktu?"
"lain waktu? kaya'nya udah ga bisa deh, besok belum tentu aku masih di sini" jawabnya memutuskan harapanku.
"ya udah lhah kalau memang sudah tidak bisa bertemu lagi, tapi setidaknya aku sudah tidak penasaran lagi dengan laki-laki super angkuh sinis, ketus, dan dingin yang pernah ku kenal di dunia maya itu" jawabku menghibur diri, sambil beranjak dari tempat dudukku.
Widi mengantarkanku sampai ke depan teras Media. Masih dengan senyumannya yang menawan itu, ia berpesan padaku;
"sering-sering kesini ya, di sini apa aja ada lho, bubur ayam atau nasi uduk kesukaanmu juga ada"
"hah????" Mataku terbelalak tak percaya mendengarnya, dari siapa lagi dia tahu makanan kesukaanku, setelah di dalam tadi ia bedah semua yang ia ketahui tentangku. Aneh, ia bisa tau banyak tentangku. Padahal rasanya mustahil jika ada temanku yang memberi tahu, sebab seingatku, tak ada satu pun teman dekatku yang juga menjadi temannya, dalam facebook sekalipun.
"pulang ya?" pamitku dengan berat hati, sambil mengulurkan tangan sebagai tanda perpisahan.
Widi menyambut uluran tanganku, sambil berpesan;
"hati-hati di jalan, helmnya di pake tuh"
Dengan berat hati aku meninggalkan warnet dan Widi malam itu. Menembus kegelapan dan dinginnya angin malam di kota Tegal. Seiring asa yang ku tanam dalam dada, agar pertemuan senja tadi menjadi awal yang indah.
"Terimakasih Widi, untuk waktu yang telah engkau tawarkan, untuk kesempatan yang telah engkau berikan, dan untuk semua yang secara tidak langsung telah memberi warna indah di hidupku"
Tegal, 12 Maret 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar